25 April 2008

Jangan jadikan Ujian Nasional sebagai momok

Agak prihatin juga membaca berita tentang kecurangan yang terjadi di Ujian Nasional 22-24 April 2008, yang baru berlangsung. Kecurangan (lagi-lagi) bukan dilakukan oleh siswa didik peserta UN, tetapi justeru oleh para guru yang ingin membantu siswanya lolos dari “jeratan” soal-soal UN yang memang terstandar secara nasional.

Dari berbagai temuan kecurangan UN, yang cukup menyedihkan adalah digerebegnya 16 guru dan kepala sekolah SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara) oleh Pasukan Anti Teror Densus 88 Polda Sumatera Utara. Para guru dikepung dan ditangkap di ruang UKS sekolah tersebut, saat sedang “memperbaiki” jawaban mata pelajaran Bahasa Inggris dari sekitar 284-an siswa didiknya. Lebih dramatis, pasukan Densus 88 melakukan penggerebegan disertai dengan suara letusan tembakan peringatan segala.

Alasan para guru tersebut memang terdengar sangat manusiawi, yaitu tidak tega dengan para siswanya yang hampir semuanya tak menulis jawaban di lembar ujian, karena memang tingkat kesulitan soal yang begitu tinggi, bahkan salah satu dari mereka mengatakan, “Mungkin siswa yang ada di Jakarta bisa dengan mudah mengerjakan soal itu, tapi kami yang jauh di daerah dengan sistim pengajaran yang masih tertinggal pasti akan sulit untuk mengerjakannya.” Alasan itu sepenuhnya benar, tetapi cara yang dilakukan tetap menyalahi aturan, dan harus diberi sangsi.

Ya, yang di Sumatera Utara saja mengeluh, bagaimana dengan yang di Papua ? Sulawesi Tenggara ? Nusa Tenggara Timur ? atau juga yang di Maluku Utara ? Pasti lebih tersiksa dengan UAN ini. Tetapi, Ujian Akhir Nasional adalah sebuah proses, yang tidak lahir secara tiba-tiba. Dan yang paling penting, pastinya bertujuan untuk meningkatkan dan menstandarkan mutu (lulusan) pendidikan di Indonesia. Mungkin, untuk tahun tahun awal masih muncul pro dan kontra, tetapi itu tentunya masih wajar.

Jadi, seperti yang dikatakan Mendiknas Bambang Sudibyo, “Kejujuran dalam mengerjakan UN lebih penting daripada mendapatkan nilai tinggi, tetapi tidak memiliki akhlak dan moral yang baik (dengan melakukan kecurangan),” sangatlah tepat. Karena pada hakekadnya – diakui atau tidak – soal soal UAN sudah sesuai dengan kisi-kisi mata pelajaran yang ada di seluruh daerah di Indonesia. Artinya, memang masalah kesenjangan kualitas guru dan sarana dan prasarana semata yang menjadi akar persoalan, yang tentunya sudah dipikirkan pemerintah untuk pemecahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar