13 Mei 2008

BBM naik, tentu ada manfaatnya

Lama-lama bosan juga dengan berbagai berita tentang kenaikan BBM. Apalagi kalau membaca atau mendengarkan (dan menyaksikan ?) para pengamat mengulas sampai ke akar-akarnya – masalah kenaikan BBM di akhir Mei 2008 nanti – membuat kepala serasa mau pecah. Semuanya pintar-pintar, semua mempunyai solusi yang cemerlang, meski masih sangsi juga, apakah (seandainya) pendapat mereka itu diimplementasikan pada kenyataan yang ada, hasilnya juga bagus?

Nah, supaya berimbang – hehehe… kayak jurubicara pemerintah aja – tak ada salahnya juga kita mendengar penjelasan pemerintah tentang manfaat kalau BBM itu dinaikkan. Sebab, menaikkan harga BBM bersubsidi rata-rata 28,7% jelas bukan pilihan yang baik. Namun agaknya, di mata pemerintah, inilah jalan yang paling mudah dan cepat menyelamatkan anggaran.

Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) compang-camping dihajar kenaikan harga minyak dunia. Jika harga minyak US$ 120 per barel, deficit anggaran membengkak dari 2,1% pada APBN Perubahan (APBN-P) menjadi 2,5%. Dus, subsidi BBM pun akan bertambah Rp. 31,7 triliun. Menurut hitungan pemerintah, jika harga BBM naik rata-rata 28,7% maka aka nada tambahan penerimaan Rp. 21,49 triliun. Sementara subsidi BBM hanya akan bertambah Rp. 3,86 triliun.

Menurut hitungan pemerintah, kenaikan harga BBM akan menyehatkan APBN-P 2008. Berikut asumsinya :

1. Konsumsi BBM
Asumsi APBN-P sebesar 35,5 juta kiloliter. Jika pemerintah tidak menaikkan harga (do nothing), konsumsi akan menjadi 39 juta kiloliter karena akan terjadi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Kalau dinaikkan, konsumsi BBM bersubsidi bisa dipertahankan tetap 35,5 juta kiloliter.

2. Pertumbuhan Ekonomi
APBN-P memproyeksikan pertumbuhan 6,4%. Kalau pemerintah tidak melakukan apa-apa, pertumbuhan akan turun menjadi 5,8%. Dengan kenaikkan BBM, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan 6%.

3. Defisit APBN
Asumsi APBN-P : 2,1%. Jika harga BBM tak naik, defisit 2,5%. Kalau naik, defisit hanya 1,9%.

4. Inflasi Tahunan
Asumsi APBN-P : 6,5%. Jika harga BBM tidak naik, inflasi akan naik menjadi 13,2%. Kalau BBM naik inflasi menjadi 11,1%.

Nah itu tadi adalah gambaran yang diberikan pemerintah. Apakah bisa dipahami atau tidak, tentu tak lagi penting bagi pemerintah. Dan yang tak (begitu) paham dengan penjelasan itu, salah satunya adalah saya, hehehe….

2 komentar:

  1. nah itu dia mas terkadang dengan adanya subsidi itu kita malah kaga ngerti, soalnya selama ini banyak dibilang bersubsidi untuk masyarakat kecil tapi keadaan yang sebenernya malah yang besar2 itu yg menikmati subsidi tersebut, negara kita ini banyak yang PINTAR tapi KEBELINGER.
    Malah MEGAWATI sendiri bilang kalo pemerintah sekarang ini plin-plan dlm menaikan harga BBM,padahal harga minyak dunia sudah naik lama,rakyat jgn diombang ambingkan.
    tapi ya serba susah katanya untuk rakyat tapi yg susah rakyat juga. he..he... lieur abdimah so nikmati aja hidup ini dengan rasa sukur. Iya engga mas sugeng.

    BalasHapus
  2. Sudah saatnya, kita berpikir secara integral dan holistik. Perbedaan pendapat akan menunjukkan kualitasnya jika kita mampu berpikir secara menyeluruh dan menyatu.

    Perbedaan pendapat yang dilandasi cara berpikir yang setengah2 dan parsial tidak akan banyak memberikan manfaat dan sulit melahirkan solusi yang tepat

    Kalo kita membandingkan dengan Venezuela dengan harga BBM murahnya, maka yang terjadi adalah perkembangan pembangunan kita juga akan seperti Venezuela, Mau???

    Mengapa???

    Lha......, belanja negara banyak terkuras hanya untuk kebutuhan pemenuhan subsidi BBM.

    Bagaimana untuk memajukan pendidikan yang tertinggal dg Malaysia yang harga BBMnya di atas 10.000 (padahal Malaysia net exporter, Indonesia sudah menjadi net importer). Malaysia mampu meningkatan kualias pendidikannya karena mampu membiayai pendidikan dg jauh lebih baik dan membuat para guru mampu meningkatkan profesionalismenya karena punya biaya yang cukup untuk itu.

    Lihatlah indikator kemajuan dari negara2 yang sukses menjadi negara maju, pengelolaan belanja negara yang produktif akan mampu menjadi leverage (pengungkit) bagi peningkatan pembangunan negara secara signifikan

    Jadi sebagai mahasiswa atau rakyat jangat beripikir serakah....
    Maunya segalanya dituruti.....
    BBM Murah....
    Pendidikan murah bahkan gratis....
    Rakyat tidak mampu mendapatkan jaminan standar (kesehatan, dll).....
    Bebas penyakit....
    Bebas gizi buruk .....
    Jalan tidak berlubang......


    Trus, pikirlah dg jernih.... Darimana negara mampu membiayai seluruh keinginan itu???. Maka negara perlu uang (pendapatan)

    Sehingga APBN harus mencerminkan rencana strategi pemerintah untuk mengalokasikan pendapatan dan belanja yang produktif

    Kalo Anda tidak mengerti makna belanja produktif, jangan banyak berkomentar tentang kenaikan BBM yang akhirnya menyesatkan cara berpikir banyak orang.....

    Belanja disebut produktif jika belanja mampu menghasilkan dan meningkatkan manfaat yang berlipat2 dan terukur jelas, sebagaimana yang sudah dicapai oleh negara2 yang terbukti sudah maju

    Anda ingin negara kita maju, tapi perilaku APBN kita anda paksa seperti perilaku APBN negara terbelakang, gimana bisa???....

    Tidak setuju kenaikan BBM karena memicu inflasi tinggi (akhirnya meyusahkan rakyat) ????
    Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Tetapi apakah permasalahan itu kemudian menyebabkan kita salah memilih kebijakan yang akhirnya bahkan akan menyengsaran rakyat selama berabad2. mengapa???

    Lah iya, wong pendidikan ya akan begini2 saja, jaminan pada oang tidak mampu ya sekedarnya, penyakit menjangkit dimana2, kematian ibu melahirkan sangat tinggi, akses kesehatan bagi orang miskin susah didapat, gizi buruk terjadi dimana2, dan lain-lain. Kita ngap bisa berbuat banyak karena nggak punya banyak uang bro....

    Inflasi tinggi itu (kalo tidak terjadi secara beruntun dan dalam waktu yang singkat) maka tidak akan banyak menimbulkan persoalan (tidak terlalu merisaukan). Permasalahan (kerisauan) hanya terjadi di awal saja, asalkan pemerintah juga mampu me-manage inflasi itu dg baik.

    Setelah inflasi tinggi, asalkan tidak ada faktor pemicu inflasi yang lainnya termasuk unsur ketidakpastan ekonomi (bisa disebabkan ketidakpastian keamanan, seperti demo yang anarkis), maka inflasi akan teredam dg sendirinya apalagi kalo dikombinasikan dg kebijakan pemerintah untuk meredam inflasi.

    Mekanisme pasar juga akan bergerak dg sendirinya mengikuti besaran inflasi.

    Pedagang di pasar juga akan menaikkan harga jualnya, sehingga pendapatannya naik....

    Gaji pegawai negari sudah sejak dulu di awal pemerintahan ini dinaikkan hingga 100%, misal untuk freshworker dari 750 rb menjadi 1,5 juta...

    Memang masih ada permasalahan dg penduduk berpendapatan tetap, tapi itulah masalah yang masih harus kita hadapi....

    Tetapi perlu dicatat juga bahwa Perusahaan juga akan menaikkan harga jual produknya sehingga ada konsekuensi nantinya upah buruh juga harus dinaikkan.....

    Hal ini membuktikan bahwa pendapatan tetap pun akhirnya akan dapat disesuaikan dan melakukan penyesuaian, tetapi memang lebih butuh waktu....

    Intinya adalah untuk setiap kejadian inflasi maka mekanisme pasar akan bergerak dan mampu mengkondisikan perekonomian kembali pada posisi kesetimbangan pada akhirnya....

    Yang dirasakan sekarang adalah kesusahan akibat inflasi yang tinggi itu, maka bersabarlah. Rasa sakit Itu adalah konsekuensi dari pilihan terbaik ini untuk menghindarkan kita dari kesengsaraan yang bisa saja berlangsung dan berlanjut selama berabad2 yang akan datang, yang akan kita sesali sebagaimana kita menyesali misalnya mengapa kita tertinggal dari Malaysia sampai saat ini

    Jadi jangan sampai Anda semakin menyusahkan rakyat yang sudah susah dengan demo yang anarkis....


    Cukup itu dulu dari saya ya......

    BalasHapus