16 September 2008

Berbuat Baik Tidak Harus “Mengorbankan” Kaum Miskin

Miris sekaligus sedih, begitu tadi malam diberitakan – ini kebiasaanku sebelum tidur selalu nonton berita malam di RCTI dan ANTV – aku melihat tayangan berita meninggalnya 21 orang, hanya karena berdesak-desakan ingin menerima zakat dari seorang dermawan.

Ya, dalam tayangan itu dengan jelas dan gamblang dipaparkan bagaimana dari detik ke detik sekitar 5.000-an masyarakat miskin di seputar wilayah Pasuruan berdesak-desakan untuk berebut zakat senilai Rp. 20.000,- di pelataran rumah milik Haji Soikhon, di Kelurahan Purutrejo, Purworejo (Pasuruan).

Miris, karena dalam tayangan itu yang nampak adalah kaum ibu-ibu miskin usia renta – sekitar 30 sampai 60-an tahun – dengan wajah kusut dan kelelahan. Bisa jadi para ibu-ibu ini sudah menunggu mulai pagi hari, ditambah bulan puasa yang membuat cepat lelas dan haus, sehingga ketika matahari mulai naik dan desakan dari pengantri lain, membuat suasana makin panas dan panik. Padahal, zakat senilai Rp. 50 juta itu baru akan dibagikan pukul 9.

Sedih, karena dampak dari perekonomian negara yang tidak juga beranjak baik, membuat kaum miskin bertambah banyak, sehingga beban ekonomi yang semakin tinggi itulah kaum ibu-ibu tersebut tidak punya pilihan lain kecuali ikut berebut “berkah” uang zakat yang hanya senilai Rp. 20 ribu per orang.

Terlepas bahwa pihak pemberi zakat tidak memperhitungkan tiap tahun makin bertambah kaum miskin yang datang – karena Rp. 50 juta hanya cukup untuk 2.500 orang saja, kalau masing-masing menerima Rp 20 ribu – nyatanya acara yang cenderung mengumpulkan massa ini juga tanpa pemberitahuan ke pihak aparat desa maupun kepolisian, dengan alasan tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa alias aman-aman saja.

Tanpa bermaksud “mengadili” – karena hak setiap orang membagikan harta (untuk membayar zakat) dengan caranya masing-masing – menurutku pembagian zakat dengan cara mengumpulkan orang miskin dalam satu tempat ini koq kurang pas. Karena, selain terkesan pamer (aduuh… mudah-mudahan ini salah!), biar diketahui banyak orang (ini juga dugaanku semata), juga membuat susah pihak-pihak lainnya (entah itu tetangganya, aparat desa, pihak keamanan, dan masyarakat umum pengguna jalan di sekitarnya).

Kenapa tidak memakai sistim kupon saja, sehingga kaum miskin yang mengambil zakat adalah yang memegang kupon. Ini jelas aman dan tidak akan terjadi kelebihan (calon) penerima daripada uang yang akan dibagikan itu sendiri. Atau, datangi saja kaum miskin itu satu-persatu, ini lebih manusiawi.

Yang sudah terjadi biarkan terjadi. Korban pun sudah berjatuhan. Setidaknya, ini bisa mengingatkan kita bahwa (ternyata) masih sangat banyak masyarakat yang hidup sangat kekurangan, dan tentu saja bisa membuka mata pemerintah lebar-lebar bahwa penduduk negeri ini makin hari makin terpuruk ke jurang kemiskinan yang parah. Sudah seharusnya saudara-saudara kita yang kekurangan ini diperhatikan lebih seksama.

AddThis Feed Button

1 komentar:

  1. Saya sepakat dengan pendapat Must Pri, saya sekarang berdomisili di desa Patokpicis Wajak, emang saya sengaja sih. Saya juga senang mengamati keadaan sekeliling saya, yang note bene adalah masyarakat yang kurang mampu. Kemarin di depan rumah ada seorang wanita tua bertempat tinggal di gardu perempatan jalan, dia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Untuk makannya, saya dan tetangga bergiliran untuk memberi makan. Setelah beberapa lama, dia sakit keras dan akhirnya meninggal tanpa ditunggui salah satupun sanak keluarganya. Hanya tetangga kiri dan kanan saja yang merawat dan akhirnya menguburnya sekaligus Nylameti sampai tujuh harinya. Ironis...

    BalasHapus