06 September 2008

Tayangan Kebanci-bancian Dilarang? Setuju Banget!

Seminggu belakangan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lagi getol-getolnya menyuarakan perlunya tayangan televisi yang materinya memunculkan sosok kebanci-bancian – laki-laki yang sengaja didandani perempuan – segera dihilangkan. Selain terkesan berlebihan, biasanya sosok banci ini malah “melecehkan” para komunitas waria itu sendiri.

Untuk masalah yang satu ini, aku sangat setuju. Karena walaupun – tujuan awalnya – mungkin hanya bermaksud memberi hiburan segar pada pemirsanya, tetapi tetap saja terkesan kasar dan jorok. Tidak ada sedikitpun nilai plus yang dapat diambil dari tayangan macam ini, apalagi unsur keteladanan ataupun pendidikan bagi generasi muda (baca: anak-anak). Yang ada justeru “pelajaran” buruk bagi anak-anak yang (terlanjur senang) menontonnya.

Contoh konkrit, saat mengambil buku raport putriku bulan Juli lalu – di salah satu SDN di Jakarta Timur – masih terdengar jelas wali kelas putriku memberi “peringatan” pada salah satu orangtua murid. Bukan karena anaknya nakal atau malas belajar, tetapi dengan mimik agak kurang suka guru tersebut membeberkan kalau sekelompok anak didiknya tiap hari menirukan gaya Ruben, Eko & Ivan Gunawan (yang kemayu, lemah gemulai, menjurus bencong) di salah satu acara televisi.

Anak Ibu sudah saya nasehati tiap hari, kalau terus-terusan begitu nanti akan menjadi bencong beneran. Tapi anak Ibu tetap melakukannya setiap hari, dan sepertinya senang karena teman-temannya juga mentertawakannya. Jadi tolong Ibu juga ikut mengontrol anaknya saat menonton televisi di rumah, jangan sampai Ibu ikut menyesal di kemudian hari,” begitu kalimat-kalimat yang meluncur dari guru, yang sempat aku dengar sambil menunggu giliran dibagi buku raport.

Ironis, sebuah tayangan televisi hanya mengejar rating dan iklan banyak, tanpa memikirkan dampak bagi pemirsanya. Aku juga ngeri membayangkan, kalau anak-anak usia sekolah dasar pada rame-rame meniru dan mengikuti gaya banci (yang selalu ditonton di televisi), terus apa yang akan terjadi pada generasi muda bangsa ini 10-15 tahun mendatang? Aah.., betapa ngerinya membayangkan sebuah negara penuh dengan lelaki muda yang modis dan kebanci-bancian!

AddThis Feed Button

2 komentar:

  1. sateju juga.. kalo bisa artisnya dicekal dan diarak keliling kampung siip daaach

    BalasHapus
  2. waaaa...amiing ngegemezin!
    gemez pengen nampol!
    iya nih setuju banget..
    kadang kebanciannya lebay! apa ya kalo jd perempuan gitu ya..ckckck..
    apa kata dunia :D

    BalasHapus